Tag

, ,


REMBANG – Pertemuan antara warga Desa Leran, Kecamatan Sluke, Rembang, yang diwakili sejumlah tokoh masyarakat dengan PT PLN/PLTU di Pendapa Kecamatan Sluke, kemarin, belum ada titik temu. Warga ngotot minta ganti rugi berupa uang sebagai kompensasi akibat terkena polusi debu batu bara dari lokasi proyek PLTU.

Selain itu warga juga mengeluhkan suara bising uji coba mesin PLTU yang sering sampai larut malam. Namun PT PLN melalui Manajer Sektor PLTU Sluke, Ir Slamet Riyanto menolak permintaan warga. Lantaran tidak ada anggaran untuk itu.

Pertemuan kemarin difasilitasi Badan Lingkungan Hidup Jateng dan Muspika Sluke. Hadir antara lain Kepala Badan Lingkungan Hidup (LH) Jateng Ir Joko Sutrisno MSi, Camat Sluke Abdullah SSos dan Ir Endro Sumantri MEN dan beberapa rekannya dari Undip Semarang sebagai konsultan lingkungan PLTU Sluke.

”Kami mewakili aspirasi dan suara warga yang terkena polusi debu batu bara, menuntut dua hal. Yaitu, minta kompensasi berupa uang dari penderitaan warga akibat terkena debu batu bara. Selain itu, warga Leran minta diprioritaskan bekerja di PLTU sesuai kemampuannya,” ujar Mustahal yang dibenarkan oleh Kades Leran, Minawir.

Rohmat, salah seorang warga mengatakan, selain terkena polusi debu batu bara, warga juga merasa sangat terganggu dengan suara bising mesin PLTU. Bahkan bunyi mesin terdengar hingga larut malam. ”Jika mesin itu masih dalam tahap uji copba, lantas selesainya kapan,” tanya Rohmat agar Slamet Riyanto memberi jawaban yang pasti.

Disiram
Manajer Sektor PLTU Sluke Slamet Riyanto mengatakan, sangat mengerti keluhan warga. Oleh karena itu, pihaknya telah melakukan upaya-upaya normatif yang masiksimal untuk mengeliminir terjadinya polusi debu batu bara. Antara lain menyiram stok batu bara dengan air tawar yang dicampur degan kompon.

”Dalam hal ini kami terkendala dengan ketersediaan air tawar. Kami mengalami kesulitan mendapatkan air tawar untuk menyiram stok batu bara untuk mengurangi debu. Ini terjadi karemna saat ini sedang musim kemarau, sehingga banyak sumber air mati,” kata Slamet Riyanto.

Dia juga menyatakan, upaya lain adalah mengembangkan green belt (sabuk hijau) di lokasi proyek PLTU sebagai tembok hidup untuk mengurangi penyebaran debu ke perkampungan warga.

”Dalam melakukan penanaman penghijauan ini kami telah merangkul warga di Leran,” ujar Slamet seraya menambahkan, menyangkut kompensasi berbentuk uang, Slamet Riyanto menegaskan tidak bisa. Lantaran dari perusahaan memang tidak ada fasilitasi untuk itu

http://www.wawasandigital.com/index.php?option=com_content&task=view&id=34314&Itemid=35

About these ads