Tag

, ,


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Mutu pendidikan sebagai sebuah pilar pengembangan sumber daya manusia sangat penting maknanya bagi pembangunan nasional. Bahwa dapat dikatakan bahwa masa depan bangsa terletak pada keberadaan pendidikan yang berkualitas di masa sekarang. Pendidikan yang berkualitas hanya akan muncul apabila terdapat sekolah yang berkualitas, karena itu upaya peningkatan mutu sekolah merupakan titik strategis dalam upaya menciptakan pendidikan yang berkualitas.
Sekolah adalah sebuah sistem, oleh karena itu bagian-bagian dari sistem tersebut harus berfungsi dengan baik. termasuk di dalamnya adalah sumber daya manusia pengelola input (siswa) yaitu guru. Guru harus selalu berusaha mengfungsikan dirinya bersama bagian-bagian lain dari sistem agar output atau lulusan dapat berguna di masyarakat yang nota benenya adalah “akar” mereka.
Seorang guru harus menguasai kompetensi guru, sebab guru sebagai jabatan profesional. Kompetensi guru untuk melaksanakan kewenangan profesionalnya, mencakup tiga komponen sebagai berikut : (1) kempampuan kagnitif, yakni kemarnpuan guru menguasai pengetahuan serta ketrampilan/keahlian kependidikan dan pengetahuan materi bidang studi yang diajarkan, (2) kemampuan afektif, yakni kemampuan yang meliputi seluruh
fenomena perasaan dan emosi serta sikap-sikap tertentu terhadap diri sendiri dan orang lain, dan (3) kemampuan psikomotor atau kinestika, yakni kemampuan yang berkaitan dengan ketrampilan atau kecakapan yang bersifat jasmaniah yang pelaksanaannya berhubungan dengan tugas-tugasnya sebagai pengajar.
Makmum (1996 : 82) menyatakan bahwa teacher performance diartikan kinerja guru atau hasil kerja atau penampilan kerja. Secara konseptual dan umum penampilan kerja guru itu mencakup aspek-aspek; (1) kemampuan profesional, (2) kemampuan sosial, dan (3) kemampuan personal. Johnson (dalam Sanusi, 1991:36) menyatakan bahwa standar umum kemampuan guru itu sering dijabarkan sebagai berikut : (l) kemampuan profesional yang mencakup, (a) penguasaan materi pelajaran, (b) penguasaan penghayatan atas landasan dan wawasan kependidikan dan keguruan, dan (c) penguasaan proses-proses pendidikan; (2) kemampuan sosial mencakup kemampuan untuk menyesuaikan din kepada tuntutan kerja dan lingkungan sekitar pada waktu membawakan tugasnya sebagai guru; (3) kemampuan personal (pribadi) yang beraspek acktif mencakup; (a) penampilan sikap positif terhadap keseluruhan tugas scbagai guru, (b) pcmahaman, penghayatan dan penampilan nilai-nilai yang seywyanya dianut oleh seorang guru, dan (c) penampilan untuk menjadikan diri sebagai panutan dan keteladanan bagi peserta didik.
Sedangkan menurut Supriadi (2003:14) menyatakan bahwa guru profesional dituntut memiliki lima hal Pertama, guru memiliki komitmen pada siswa dan proses belajarnya. Kedua, guru menguasai secara mendalam bahan materi pelajaran yang diajarkannya serta cara mengajarkannya kepada siswa. Ketiga, guru bertanggung jawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai teknik evaluasi. Keempat, guru mampu berpikir sistematis tentang apa yang dilakukannya dan belajar dari pengalamannya. Kelima, guru seyogyanya merupakan bagian dari masyarakat belajar dalam lingkungan profesinya.
Dari uraian tersebut di atas dan dari berbagai teori pendidikain telah dijadikan dasar dalam melaksanakan tugas-tugas mereka sebagai guru. Salah satu diantaranya adalah teori humanistik yang dipelopori oleh Carl Rogers. Dia menganjurkan agar pendidikan sebaiknya mencoba membuat belajar dan mengajar lebih manusiawi, lebih personal, dan bermakna.
Salah satu strategi yang disarankan Rogers adalah memberi peserta didik berbagai sumber yang dapat mendukung dan membimbing pengalaman belajar mereka. Sumber-sumber dapat berupa materi pengajaran yang biasa, seperti buku-buku, bimbingan, referensi, dan alat-alat bantuan listrik (TV, tape recorder, VCD, komputer, dan sebagainya).
Berbekal dari teori pendidikan tersebut, penulis selaku guru di SMA Negeri 1 Krangkeng Kabupaten Indramayu yang mengharapkan peserta didiknya mampu terjun dalam masyarakat, maka berusaha untuk melakukan berbagai pendekatan dan teknik mengajar serta membelajarkan siswa.
Pendekatan pendidikan yang telah kami coba di SMA Negeri 1 Krangkeng adalah pendekatan pembelajaran kontcktual atau Contextual Teaching and Learning (CTL). Untuk mewujudkannya penulis berusaha membahas penerapan pembelajaran kontekstual (CTL) dengan teknik “Moving Class” yang jelas berbeda dengan pengertian kelas dalam pengertian tradisional. Kelas tradisioanal digunakan untuk mengikuti berbagai mata pelajaran pada hari tertentu dan jam pelajaran tertentu serta di kelas tertentu. Sedangkan teknik “Moving Class” adalah kelas berpindah yang khusus untuk 3 (tiga) mata pelajaran Ekonomi, Sosiologi dan Geografi, dibuat kelas khusus dengan isi berbagai sumber belajar, media dan alat peraga sedangkan yang berpindah rombelnya atau siswanya.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas maka penulis berusaha akan membahas Pembelajaran Kontekstual (CTL) dengan teknik “Moving Class” tersebut. Sebagai insan yang berorientasi pada masa depan, penulis mengajukan permasalahan-permasalahan sebagai berikut :
1.Bagaimana penerapan pembelajaran kontektual (CTL) dengan teknik “Moving Class”?
2.Model-model pembelajaran apa aaia yang berasosiasi dengan pendekatan CTL?
3.Pada ranah apakah “Moving Class” bisa diterapkan dalam pembelajaran secara efektif?
4.Adakah kendala dalam penerapan pembelajaran kontekstual (CTL) dengan tcknik “Moving Class”?

C.Tujuan dan Manfaat
1.Tujuan Penerapan CTL dengan Teknik “Moving Class”
Tujuan penerapan CTL dengan teknik “Moving Class” adalah :
a.Agar siswa sebagai subyek pendidikan dan guru sebagai “pembantu” subyek dapat menemukan Jati dirinya sebagai insan yang dinamis.
b.Untuk    mengetahui    keefektifan pembelajaran CTL dengan teknik “Moving Class” dalam pencapaian ranah-ranah pendidikan (kognitif, afektif dan psikomotor/kinerja).
2.Manfaat Penerapan CTL dengan tcknik “Moving Class”
a.Bagi Guru
1) melaksanakan teori-teori pendidikan yang dianggap cocok
2) melatih kreativitas guru dalam mengembangkan teknik ¬teknik pembelajaran
3) meningkatkan fungsi guru selaku fasilitator, manager, dinamisator dan sebagainya
b. Bagi Siswa
1) merasakan sensasi pengalaman belajar dengan teknik-teknik pembelajaran mutakhir
2) melatih ketepatan waktu belajar, mengingat perpindahan dari kelas tradisional (masing-masing) ke “Moving Class” dan perpindahan dari “Moving Class” ke kelas semula, idealnya tidak boleh mengganggu jam jam sebelum dan sesudahya
3) menciptakan suasana belajar di kelas yang bergairah agar tidak jenuh seperti kecenderungan mengikuti belajar di kelas-kelas tradisional.

Selengkapnya disini

About these ads