Tag

, ,


“Tanyakan kepada dirimu! Apakah orang yang paling bahagia adalah orang yang paling tinggi jabatannya dalam pekerjaan dan yang paling banyak penghasilannya, walaupun jiwanya rusak dan hatinya mati?” (Ahmad Amin, Cendekiawan dan Budayawan Mesir Abad XX dalam Surat Cinta Seorang Ayah – Pesan pesan Moral untuk Ananda)

Selepas shalat Idul Fitri beberapa bulan yang lalu, Ramli (26 tahun), kawan sepermainan saya semasa kecil mengeluhkan dirinya kepada saya. Ia meratapi dirinya yang tidak pernah berubah. Masih seorang buruh kasar di perusahaan swasta yang bergerak dibidang perikanan di sudut pelabuhan Tj. Prok. Dengan gaji dan beban pekerjaan yang melelahkan dari tahun ke tahun.

Katanya, sehari hari, ia masih mengangkut ikan-ikan besar dan memotong motongnya untuk kemudian diekspor ke luar negeri. Ia masih bekerja di dalam ruangan berfreezer (pendingin, bukan AC) yang menggigilkan badannya. “Tangan, kaki, pinggang dan tubuhku encok encok nih.” Keluhnya menggebu gebu.

Lalu, ia membanding bandingkan dirinya dengan saya dan teman teman lainnya yang menurut dia sudah sukses. Tentunya sukses dengan ukuran yang telah diciptakanya sendiri: kerja tanpa perlu banyak tenaga, diruang berAC, gaji besar dan lain lainnya. Kalau sudah begitu, meski ia bahagia bernostalgia dengan saya (biasanya kami bertemu hanya setahun sekali), wajahnya terlihat menyimpan rasa tidak percaya diri, rendah diri dan lain lainya.

Saya mahfum sekali atas perasaan dan gejolak jiwa yang tengah dialami sahabat saya itu. Pasalnya, dia tidak sendirian. Banyak orang orang senasib yang juga mengalami hal yang demikian. Bahkan, Ramli masih tergolong manusia beruntung. Ia sudah bekerja dan tidak menggantungkan hidup dari orang tuanya. Setidak tidaknya, ia sudah bisa menunjukkkan eksistensi dirinya. Ia tidak termasuk kelompok orang orang pengangguran Indonesia yang angkanya konon sudah sepuluh juta orang itu.

Mengenang percakapan dengan sahabat dikampung itu, saya teringat sebuah esai yang ditulis Seno Gumira Ajidarma dalam buku Affair, Obrolan Tentang Jakarta (2004). Menurut cerpenis kawakan yang suka menyingkat namanya dengan SGA itu, virus sukses memang telah meracuni mentalitas seseorang. Terutama sekali, bagi mereka yang tinggal di Jakarta.

Seseorang bisa menjadi rendah diri karena temannya mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Seseorang bisa menjadi minder dan inferior kalau saudaranya memiliki posisi atasan atau pimpinan di tempat kerjanya, sedangkan dirinya masih berstatus karyawan biasa biasa saja.
Seseorang merasa lebih bodoh lantaran ia tidak menyandang jabatan bergelar seperti layaknya sahabatnya yang berstatus atasan atau pimpinan dengan istilah yang sok nge-inggris itu : General Manager, Sales and Marketing Manager, Producer, dll. Begitulah sukses dimaknai. Bahwa yang memiliki posisi pekerjaan sebagai atasan adalah yang disebut sukses, sementara mereka yang hanya menyandang bawahan adalah yang tidak sukses.

“Kalau anda tidak sukses dengan ukuran ukuran ajaib : bukan direktur, tidak berdasi, datang naik bis, bekerja diperusahaan gurem (kecil), selalu berkeringat dan tidak bisa berbahasa inggris, maka seolah olah anda bukan manusia, atau tetap manusia tapi tergolong orang orang yang kasihan.” Demikian SGA menegaskan dalam buku tersebut.
Karenanya, “Anda sukses! Anda lebih daripada saya!” Begitu kira kira pesan yang saya tangkap, betapa virus kesuksesan seperti di atas telah membuat orang orang di muka bumi ini berlomba lomba mengejarnya. Sebab, dengan sukses demikianlah manusia akan terlihat berharga, terhormat, pintar, dan bermartabat.

Tak aneh, bila impian sukseslah yang membuat buku-buku seputar “Bagaimana Menjadi Orang Sukses!” laku bak kacang goreng. Seminar dan pelatihan tentang topik yang satu ini pun demikian gencarnya diselenggarakan di pelbagai tempat. Bahkan, karena virus bernama sukseslah, Andrie Wongso, seorang motivator sukses ternama dengan mottonya ‘succes is my right (sukses adalah hak saya)’ rajin memberi ceramah dimana mana.

“Kesuksesan bukan milik orang orang tertentu. sukses milik anda, milik saya, dan milik siapa saja yang benar benar menyadari, menginginkan, dan memperjuangkan dengan sepenuh hati.” Begitu pengusaha kartu kata kata mutiara Harvest itu menegaskan dalam buku Kalau Mau Kaya Ngapain Sekolah (lihat Edy Zaques, 2004: 43).

Terlebih lebih, di abad millenium ini. Pelbagai media, baik itu media cetak seperti koran dan majalah, maupun media elektronik seperti tv, radio menampilkan gambaran orang orang sukses begitu rupa, wah dan menggiurkan. Semuanya menawarkan janji bahwa kesuksesan membuat Anda bahagia. Menjadi orang sukses adalah menjadi orang bahagia.

Sesuatu yang berbau sukses di kemas sedemikian rupa menjadi suatu yang harus dikejar dan dicari cari. Sukses pun akhirnya menjadi barang dagangan yang diberhalakan. Dalam buku Essential Frankfurt School Reader, filsuf kontemporer bernama Herbert Marcuse menyebut “comodity fetishisme (pemberhalaan komoditas).

Maka jadilah sukses itu “tuhan” di segenap hati orang yang mengimpikannya. Sukses menjadi “tuhan” baru di abad millenium ini. Karena itu, siapa yang tak menyembahnya, maka dia akan dianggap orang yang menyimpang, orang yang tidak maju, bodoh, dll. Begitu pula sebaliknya.

Pada hakekatnya, apa yang kita cari dalam kesuksesan adalah kebahagiaan. Namun, pertanyaannya apakah menjadi bahagia itu harus terlebih dulu menjadi orang yang sukses sebagaimana yang dikonstruksikan oleh segenap manusia modern abad ini? Yakni: harus menjadi atasan, berdasi, punya mobil sendiri hingga tidak perlu naik angkutan umum, kerja diruang ber-AC, pandai berbahasa Inggris, bergelar rupa-rupa, makan di kafe, dan lain lainnya.

Kita berharap, kita akan bahagia bila sukses itu sudah ada digenggaman kita. Betulkah demikian?Ternyata tidak. Tengok saja orang orang yang katanya sudah sukses itu berbondong-bondong mengikuti majelis majelis dzikir ustadz bernama Arifin Ilham atau Aa Gym demi memahami arti bahagia sejati. Atau juga, lihatlah berapa banyak orang yang katanya sukses ternyata merana dan menderita hatinya ketika menjalani hidup keseharianya. Lebih tragis lagi, banyak yang akhirnya ingin bunuh diri.

Fenomena inilah yang oleh Paul Pearsall, dokter psikologi pendidikan, disebut sebagai toxic succes, sukses yang beracun. Sukses yang ternyata tidak dapat memberikan kebahagiaan. Gejala inilah yang banyak menyebar di dunia modern sehingga orang menganggapnya sebagai sesuatu yang normal-normal saja (lihat buku Meraih Kebahagiaan, Jalaludin Rakhmat, 2004:123). Tetapi kenapa banyak yang terlena dan membabi buta memburunya? Bahkan untuk mencapainya banyak orang yang harus kehilangan waktu, keluarga dan persahabatan.

Pada intinya, orang yang memberhalakan kesuksesan itu menganggap sukses sebagai kebahagiaan mutlak. Ia berpikir bahwa sukses seperti di atas adalah puncak kebahagiaan. Dan, karena itulah, dia tidak benar benar membuat bahagia. sebab yang dikejarnya selama ini bukanlah inti kebahagiaan.

Betul! Sebagai manusia, tak bisa dipungkiri kalau kita membutuhkan kata sukses untuk mengiringi hidup kita, tapi bukan kemudian menjadi penyembahan yang akhirnya mengorbankan banyak hal didalam hidup dan diri kita. sebab, kalau tidak sukses, kita akan tampak tidak manusiawi lagi.

Tentu saja, hal ini tidak benar. Pasalnya, sukses terlanjur ditafsirkan dengan ukuran ukuran yang begitu kasat mata (lahiriah). Yakni sesuatu yang berlambang jabatan, kemakmuran dan kekayaan. Kesuksesan tidak dimaknai dengan –sebagaimana Dr. Thariq Muhammad as-Suwaidan katakan dalam buku Sukses Tanpa Batas– sesuatu yang tidak kasat mata, tidak bisa diungkapkan kata kata, tidak terkandung dalam keanekaragaman kekayaan, tidak juga bisa dibeli dengan harta benda. Kesuksesan itu bersifat internal dan terdapat di dalam relung hati sanubari manusia.

Dalam Islam, Allah SWT menilai kesuksesan seseorang bukan pada posisi atau jabatan yang tengah dipikulnya, tapi pada seberapa bagus ia menjalani pekerjaannya itu. “Dia menguji siapakah diantara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Huud:7). Demikian firmanNya. Karena itu, untuk apa berada pada posisi di atas kalau hanya mengorbankan orang lain, menindas orang disekitarnya, tidak jujur, zalim dsb.

Sebagai penutup tulisan, berikut ini saya kutipkan kata-kata SGA dalam buku yang sudah saya sebut diatas : “Bolehkan jadi orang orang biasa saja yang cukup puas asal bisa hidup mandiri, tidak jadi parasit, dan bisa berekspresi secara merdeka? Bolehkan tidak usah berkompetisi dan santai santai menjadi juara enam saja, atau nomor dua belas, tidak usah pakai dasi, tidak usah pakai batik, tidak usah membungkuk bungkuk rindu order (perintah), tidak usah cari muka, menjadi warga kelas dua saja yang tidak usah nonton opera dan cukup puas (meski sering sebel juga) dengan sinetron sambil terkantuk kantuk dimuka tv? Bolehkan menjadi manusia yang sedang sedang saja? Berbahagialah orang yang tidak sukses, selama mereka tidak punya beban. Bagi yang memberhalakan kesuksesan, tapi gagal, boleh tunggu dilapangan parkir: siapa tahu meloncat dari lantai 20.”

Pada kalimat terakhir SGA tersebut, saya teringat adegan di film Ketika yang dibintangi dan disutradarai Deddy Mizwar itu. Dalam film tersebut ada adegan para kaum berdasi yang katanya sukses –akhirnya– banyak yang memutuskan bunuh diri karena dililit pelbagai masalah. Karena itu, hanya ada satu kata: Selamat Tinggal Berhala Sukses!

wallahu’alam bil showab.

Hidayah – Muaz
This article I dedicated to my best friend …. FLIPPER 1876…