Tag

,


Jada resah yang menggebu menyeruak di seluruh relung hati ini tatkala harus membawa pulang sebuah kabar yang saya pun berat menggenggamnya terus menerus dalam hati sepanjang perjalanan dari kantor menuju rumah. Sebuah kabar yang saya pastikan akan membuat sebongkah hati di rumah juga ikut menggebu. Berat, tapi saya memang harus menyampaikannya secara utuh kabar tersebut, tanpa menambahi apalagi menguranginya sedikit pun.

Sepanjang perjalanan saya pun membayangkan wajah manis di rumah sekilat berubah muram, penuh tanya yang kemudian seribu tanya itu kan menghujam wajah saya yang justru masih sibuk mencari jawab yang tak pasti. Kabar itu, berupa sebuah keputusan yang harus saya ambil segera, tetap bekerja atau mengundurkan diri dari kantor tempat saya bekerja saat ini. Sebuah kabar yang tidak semua isteri bisa menerimanya dengan ikhlas, dan keyakinan itu juga yang membuat saya resah sepanjang jalan membayangkan ketidakikhlasan isteri akan keputusan yang akan saya ambil. Karena ternyata, jauh di lubuk hati ini sudah tersimpan sebuah keputusan, bahwa saya memang harus mengundurkan diri.

Bagaimana pun muramnya wajah isteri kelak saya harus tetap menatapnya, semerah apa pun hatinya mendengar keputusan saya nanti, tugas saya adalah mendinginkannya, menenangkan dan membuatnya nyaman adalah tugas maha berat setelah keputusan ini saya ambil. Padahal, membuat keputusan ini pun sedemikian melelahkannya bagi saya, habis sudah energi ini terkuras untuk mencipta keputusan; tetap atau mundur.

Sampailah diri di rumah, walau hati enggan sekali sampai di rumah tak kuasa membayangkan perang dunia macam apa yang kan terjadi. Saya biarkan semua berlangsung, kecupan hangat penyambut kepulangan, tawa ceria anak-anak mendapati tulang punggung keluarga kembali tanpa kurang satu apa pun, bertubi-tubi kecupan sayang pun menyambar dari mulut-mulut kecil itu.

Sejenak sebelum malam menghabiskan waktunya, di sisa-sisa kekuatan mata menahan jaga lidah pun berucap perlahan menyampaikan kabar yang sejak siang tergenggam erat dalam hati. Tapi, tidak ada wajah muram, ia tetap manis seperti biasa, bahkan di tengah kegalauan hati ini menyampaikan keputusan itu wajah tenangnya semakin lah manis. Tidak ada hati mendidih dan bergejolak menerima kabar yang semula saya kira kan menciptakan perang dunia ke seribu. “Abang lebih tahu yang terbaik buat keluarga” Langit mendung pun tertutupi hamparan senyumnya malam itu.

Sungguh, energi ini telah terkuras habis untuk mengambil keputusan yang sulit ini. Bahkan saya nyaris tak percaya masih tersisa cukup kekuatan untuk menampung amarah dan ketidakrelaan isteri menerima keputusan yang saya buat. Tapi senyumnya malam itu, sungguh menjadi kekuatan sendiri dan mengembalikan kepercayaan diri yang teramat dahsyat bahwa Saya masih akan hidup seribut tahun lagi. Seandainya saya diberi usia seribu tahun pun takkan pernah sanggup menjalaninya tanpa sumber kekuatan berupa senyum ikhlas dari orang tercinta, yang mendukung penuh dan percaya seutuhnya bahwa lelaki tangguh ini akan melakukan yang terbaik untuk keluarganya.

Bukankah manusia paling mulia sepanjang sejarah manusia di muka bumi ini kerap membalas hinaan dan penindasan dengan senyum? tidakkah sahabat-sahabat mulianya juga senantiasa menerima setiap kesulitan dengan senyum? Karena mereka sadar, senyum adalah lambang kekuatan, senyum dapat membantu meringankan seberat apa pun ujian yang menimpa.

Langit memang mendung malam itu, tapi hati ini tak lagi mendung hingga detik ini karena senyum yang memberikan kekuatan penuh itu. Tak lupa diri pun membalas senyumnya sebelum ia terpejam disambut mimpi.