Tag


oleh Erwin Alfaqir

Tauhid merupakan nikmat yang paling besar dan paling bermanfaat di dunia dan akhirat. Orang yang dilimpahi nikmat tauhid oleh Allah mesti mengetahui kadar nikmat tersebut. Lalu, ia mesti berusaha menjaga dan memeliharanya,terus menerus mensyukuri dan mempertahankannya. Ia juga mesti berjuang memperkuat tauhidnya dengan mengamalkan akhlaq baik dan amal solih yang merupakan cabang tauhid dan buah iman, menjauhi akhlaq buruk serta maksiat yang merupakan lawan keduanya.

Dalam hadits disebutkan, “Seorang pezina tidak akan berzina sedang ia dalam keadaan Mukmin.”(HR.Muslim dari Abu Hurairah).

Maksiat adalah pesuruh kufur. Ketika tauhid dan iman lenyap, tidak sedikitpun amal yang bermanfaat, meskipun ia beramal dari awal sampai akhir. Dan ketika tauhid serta iman menetap dalam hati manusia, maka tidak ada sesuatupun yang akan mencelakakannya, meskipun ia berbuat maksiat, ia tidak akan abadi di neraka. Orang yang di dalam hatinya masih memiliki secercah iman, akan keluar dari neraka.

Dua kesaksian (Asy-Syahadatain) memiliki pengaruh yang sangat besar dalam membersihkan jiwa, meluruskan akhlaq dan memperkuat ikatan social. Dalam kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, ada pemerdekaan akal dari keraguan, penyucian jiwa dari berbagai penyakit syirik, keluar dari dorongan untuk beribadah kepada selain Allah Ta’ala, memagari diri supaya tidak jatuh dalam kehinaan beribadah kepada patung, hewan, dan manusia, ada penyatuan hati pada sesembahan yang satu, mengarahkan wajah pada kiblat yang satu. Karena itu, kalimat tauhid memiliki pengaruh yang sangat mulia dalam menyatukan hati serta mempersatukan ummat manusia untuk bekerja sama melakukan kebaikan dan kebajikan. Demikian juga dalam kesaksian bahwa Muhammad adalah utusan Allah dan iman akan keRasulan serta kitabnya yang mulia, ada penguat akhlaq, perbaikan jiwa serta teladan baik dalam seluruh kehidupan.

Kedua kalimat inilah yang merupakan harta karun dan kekayaan utama seorang Mukmin. Syahadatain merupakan referensi kebahagiaan seorang Mukmin di dunia dan akhirat. Namun, itu hanya bagi orang yang merealisasikan konsekuensi-konsekuensinya, berusaha memperoleh terang tauhid dari cahayanya, yang bergantung pada sisi paling suci, mencari inspirasi masukan-masukan, menyelidiki anugerah-anugerahnya, dan terbuka bagi wewangi, hubungan dan ketersambungannya. Kemudian, ia mencari terang tentang kemestian-kemestian dalam mengikuti Rasulullah salallohu alaihi wa salam yang mulia. Rasulullah yang menjadi pegangan kuat dan teladan baik dalam seluruh aktivitas keberagamaan dan keduniawian, kebaikan penghidupan, tempat kembali, tentang perubahan dan acuan, individu dan social. Pada dua kutub kesaksian inilah berkisarnya kebaikan anak manusia di dua alam (dunia dan akhirat).

Ketahuilah bahwa kalimat ini memiliki dua bagian. Pertama, negasi(penafian), yakni kata “Tiada Tuhan”, dan kedua, penegasan, yakni kata “selain Allah.” Dengan demikian, tampak penafian diikuti dengan penegasan. Susunan kalimat ini memiliki makna bahwa, seorang Muslim mesti melakukan penegasan tauhid dalam hati dengan kalimat mulia ini, kalimat yang menafikan syirik besar yang berpengaruh dalam sumber iman, kemudian memperkuatnya dengan ikrar melalui hati dan lisan. Rasulullah bersabda, “Perbaharuilah iman kalian dengan La Ilaha Illallah.” (HR.Ahmad dari Abu Hurairah). Kalimat tauhid juga merupakan kalimat yang menafikan syirik kecil : riya’ dalam ibadah; mencintai penghormatan makhluk; ingin mendapat pemuliaan lebih tinggi dari mereka; serta perbuatan-perbuatan lebih tinggi mereka; serta perbuatan-perbuatan yang ia lakukan karena ingin dilihat orang lain, mengharap pujian dan sanjungan serta kehormatan di hadapan mereka. Dalam sebuah hadits disebutkan, “Pada ummatku, syirik lebih tersembunyi dariapada bulu semut.”(HR.Alhakim dari Sayyidina ‘Ali as).Syirik kecil ini tidak merusak pokok iman yang merupakan pusat keselamatan(najah), namun merusak kesempurnaannya. Kalimat La Ilaha Illallah meniadakan syirik besar dan syirik kecil bagi orang yang ikhlas-I’tiqad dan perbuatannya-mengucapkannya.

Mendahulukan kata penafian, yakni kata La Ilaha (tiada Tuhan) memiliki fungsi pengosongan hati dari berbagai kesamaran dan kotoran. Kemudian, memenuhinya dengan cahaya-cahaya tauhid dan iman melalui kata penegasan (itsbat), yakni dengan kata illallah (selain Allah). Tidak diragukan lagi bahwa kemestian menutur dan mengikrarkan syahadat ini akan menghasilkan penjernihan, pembersihan, penyucian dan pencerahan hati dari berbagai tipu daya. Kebaikan akan bertambah banyak dengan banyak mendzikirkannya. Setiap satu kali membaca La Ilaha Illallah berarti satu kebaikan, dan bisa berlipat ganda sampai seluruh kebaikan, bahkan lebih. Jika seseorang memandang kalimat La Ilaha Illallah sebagai salah satu ayat Alqur’an, lalu mengucapkannya dengan maksud membaca Alqur’an sekaligus dzikir, maka baginya akan dicatat pahala membaca Alqur’an disamping pahala dzikir.

Semua huruf yang ada dalam kalimat penyaksian ini merupakan huruf yang diucapkan oleh perangkat ucap bagian dalam (Jaufiyah), tdak ada satu pun huruf yang diucapkan oleh perangkat ucap bagian luar/bibir (Syafahiyah). Hal ini merupakan salah satu isyarat halus bahwa, syahadat mesti diucapkan dari kemurnian jauf (bagian dalam), yaitu hati, bukan dari kedua bagian bibir. Dalam kalimat Syahadat juga tidak ada huruf yang diberi titik, semuanya kosong dari titik, sebagai isyarat agar orang yang mengucapkannya kosong dari segala sesuatu yang diibadahi, selain Allah. Kalimat Tiada Tuhan Selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah terdiri dari tujuh kata, mengisyaratkan bahwa seorang hamba memiliki tujuh bagian, dan manusia memiliki tujuh pintu. Masing-masing kata dari tujuh kata tersebut bisa mengunci satu pintu dari setiap bagian yang tujuh dalam diri manusia.

(MIFTAHUL JANNAH)

Sumber : Erwin Alfaqir