Tag

,


Sudah menjadi kelaziman setiap orang tua akan mencurahkan semua perasaan cinta kepada anaknya, apa pun akan dilakukannya untuk membahagiakan anak, semua demi satu kata: cinta. Seorang ibu bisa menahan kantuknya berjam-jam untuk berjaga sepanjang malam demi anaknya yang sedang sakit. Seorang Ayah bahkan rela merangkak di aspal yang panas di tengah hari yang terik asalkan itu bisa menghasilkan sesuap nasi demi perut anak-anaknya terisi.
Sebegitu cintanya orang tua kepada anak-anak walau mereka pun tak pernah tahu apakah kelak anak yang dikasihi sepenuh hati itu akan membalas mereka dengan kebaikan atau sebaliknya. Karena orang tua memang tidak pernah meminta sedikit pun balasan. Dan sudah barang tentu tak ada anak yang mampu membayar kasih orang tua, bahkan sekadar pengganti air susu.
Memang mereka tak pernah meminta apa pun dari anak-anak. Namun betapa tak terlukiskan kebahagiaan orang tua jika mendapati anaknya tetap memperhatikannya, tetap mencintai dan menyayanginya disaat usianya semakin senja, disaat tak ada lagi yang mendampinginya seperti saat dulu ia masih menimang-nimang si kecil, disaat tak ada lagi tempatnya bercurah, berkesah, di saat tak ada lagi kekasih yang memberikannya kecupan mesra setiap pagi dan sore.
Betapa tak tersebandingkan haru yang dirasai orang tua yang mendapati anaknya yang sudah besar dan bahkan sudah berkeluarga tapi tetap mengecup tangan keriputnya dan menjadikan kakinya tempat bersimpuh.
Tahukah Anda yang diharap sang anak ketika ia tetap melakukan itu semua? Hanya doa agar ia tetap menjadi orang shalih. Dan satu doa yang dipinta, sejuta yang didapat. Ia meminta didoakan menjadi anak shalih, ibu mendoakannya, “Jadi anak yang shalih, sayang isteri, cinta anak-anak, jadi keluarga sakinah, hidup tentram, jauh dari bala dan bahaya, rezekinya lancar… ” dan seterusnya. Si anak memintanya satu kali, ibu memberikan doa itu tak pernah putusnya. Bisa jadi, selama masih ada nafas yang melewati kerongkongannya doa itu akan terus mengalir.
Saya mencoba memutar waktu dua puluh lima tahun yang akan datang, saat itu mungkin anak-anak sudah besar dan menikah. Mungkin, disaat itu saya hidup sendiri, tidak ada pasangan di sisi dan hanya anak-anak yang saya miliki. Saya yakin dan teramat yakin, bahwa kebahagiaan sebagai orang tua adalah ketika melihat anak-anak bahagia hidup berumah tangga bersama keluarga tercintanya. Saya tidak berharap apa pun, juga tidak akan pernah meminta anak-anak membalas semua cinta yang pernah saya berikan, karena saya tahu sudah pasti mereka tidak akan pernah bisa membalasnya dengan apa pun.
Namun, teramat sulit saya meukiskan kebahagiaan yang saya rasakan tatkala anak-anak tetap memperhatikan, mencintai, menyayangi saya di usia renta nanti. Mungkinkah tak ada tetes air mata haru jika saya mendapati anak-anak saya berbakti untuk sedikit membalas apa yang pernah ia dapatkan dari saya selaku orang tuanya, meski takkan pernah sebanding?
Kebahagiaan yang selalu menjadi dambaan setiap orang tua itu entah kan dirasakan atau tidak di masa yang akan datang. Mungkinkah anak-anak saya akan tetap cinta dan berbakti di usia senja saya? Saya tak tahu. Hanya saja, saya telah mempersiapkannya sejak detik pertama ketika anak-anak menghembuskan nafas pertamanya, sejak isteri saya mengalirkan cintanya lewat air susunya, sejak saya memberinya nama-nama indah sebagai doa untuknya, sejak pertama kali saya mengenalkannya nama Allah yang kan menjadi sesembahannya dan nama Muhammad yang kan diteladaninya.
Lalu akan selalu ada doa yang tak akan pernah henti mengiringi setiap langkah kecil mereka. Ini yang saya sebut rencana bahagia.
Sumber: gawtama.blogspot.com